Rumah Betang (So Langke) Identitas filsafat orang Daya'

Rumah Betang (So Langke) Identitas filsafat orang Daya'
Rumah Betang (So Langka) Spiritualitas harmoni orang Daya' . Dari So langke mengalir peradaban, budaya, tradisi, adat istiadat. So Langke simbol dari kompleksitas dan religiositas orang Daya turun temurun. Simbol keharmonisan hidup orang Daya' bersama ciptaan.

Azimat Kehidupan

Keharmonisan adalah tepat, mungkin jika tak usah mengharapkan orang lain berotak cerdas secerdas dirimu, akan tetapi dapat diwajibkan untuk memiliki hati yang peka melihat suatu hal positif dalam hidupnya. benar bahwa hidup adalah untuk menjadi orang baik. Setiap peradaban manusia di dunia ini sebenarnya ingin mencari yang jauh lebih baik karena sadar bahwa kebaikan hati merupan surga dan dan pokok utama kebijaksanaan Ilahi yang hadir di dunia ini. Namun usaha manusia terpatri pada anugerah yang diberikan oleh Sang Kebijaksanaan. Manusia bukan hanya mampu untuk takut dan membenci tetapi juga untuk berharap dan berbuat baik. Hati orang bodoh ada di mulutnya, tetapi mulut orang bijaksana ada di hatinya. Untuk itu menghormati sesama manusia merupakan syarat utama peradaban.

"Aselong balu' mata' aso, bauling balu' dano'

Datang! dan nikmatilah....

Hidup itu dipikirkan dan dijalankan, serta dihayati dalam spiritualitas:
Aselong balu' mata aso', bauling balu' dano
(hendaklah hidupmu tampak jernih laksana cahaya mentari, dan damai laksana telaga)
Mulai kini, saat ini, dan dimanapun kamu berada.

Laman

Jumat, 08 April 2011

GAWAI RAA : IDENTITAS KULTURAL DAN SELEBRASI KESELAMATAN


GAWAI RAA : IDENTITAS KULTURAL DAN SELEBRASI KESELAMATAN

3. 1. Pengantar
Bagian ini membahas gagasan-gagasan penting dari upacara Gawai raa sebagai ungkapan religiositas orang Taman. Penulis akan mendeskripsikan arti dan makna dari setiap rangkaian acara dalam upacara adat Gawai raa. Kemudian mendeskripsikan upacara ini sebagai identitas kultural serta sebagai upacara keselamatan dalam tradisi religiositas orang Taman. Adapun pokok-pokok yang akan diuraikan meliputi: pertama, pengertian dan tujuan dilaksanakannya Gawai raa; kedua, prosesi pelaksanaan Gawai raa, ketiga, Gawai raa sebagai identitas kultural dan upacara keselamatan.

3. 2. Pengertian dan Tujuan
3. 2. 1. Pengertian
Gawai diturunkan dari kata “gawa” yang artinya pesta. Secara etimologis kata ‘gawa’ di kalangan orang Daya sulit ditelusuri. Oleh karena masing-masing subsuku Daya dari sendirinya mengerti bahwa kata ‘gawa’ yang akhirnya menjadi kata ‘gawai’ adalah upacara pesta adat, yakni pesta adat syukur atas panen. Orang Taman menggunakan kata ini dalam konteks pesta yang umum dilakukan seperti pesta adat perkawinan, adat kematian, namun tidak secara eksplisit merujuk kepada pesta syukur atas panen seperti pada subsuku Daya tertentu.
Dalam tradisi Daya Tamanbaloh misalnya, Gawai identik dengan pesta syukuran panen atau pesta pamole’ beo. Pesta pamole’ beo’ merupakan aktivitas pesta makan dan minum, bersukacita atas usainya masa panen padi. Jadi pada dasarnya Gawai dalam konteks adat suku Daya Tamanbaloh diselenggarakan untuk mensyukuri hasil panen padi terlepas apakah ladang atau yang disebut “huma” menghasilkan penenan yang memuaskan atau tidak.
Gawai dalam tradisi Daya Taman bukanlah hari raya syukur atas panen padi, melainkan pesta adat yang diselenggarakan untuk mensyukuri pengalaman diselamatkan dan memohon keselamatan dan itu tak terlepas dari peranan leluhur. Pengertiannya yang demikian lebih luas dan mendasar karena menyentuh dimensi utama dari kehidupan manusia yaitu keselamatan. Dalam upacara pesta adat Gawai raa ini terdapat bagian-bagian yang dilakukan dalam rangka keselamatan itu. Gawai raa juga adalah sebuah upacara rekonsiliasi kosmik, sebab dalam upacara ini terdapat maksud yang penting yakni dalam rangka berdamai dengan alam semesta atau mengharmoniskan relasi antara alam semesta dengan manusia.

3. 2. 2. Tujuan
Tujuan diadakannya upacara Gawai raa ialah untuk menghormati para leluhur. suku Daya Taman, sejak zaman dahulu telah memiliki peradaban dan kebudayaan serta adat istiadat yang tertata dengan baik. Dalam kehidupan sehari- hari, relasi dengan Sang Pencipta dan hubungan antara arwah para leluhur selalu dijaga keserasian dan keharmonisannya. Masyarakat Daya Taman meyakini bila mana keharmonisan relasi ini terganggu karena ulah manusia, maka akan terjadi malapetaka sebagai konsekuensi dari perbuatannya.
Seperti yang telah dikemukakan dalam pembahasan sebelummya, sudah sejak dahulu kala nenek moyang suku Daya Taman mengenal dan meyakini adanya suatu kekuatan yang melampaui dan yang menguasai serta menciptakan alam semesta ini. Menurut keyakinan nenek moyang masyarakat Daya Taman, manusia diciptakan oleh Sang Pencipta yang disebut Alaatala melalui Piang Sampulo dan Bai’ Kunyanyi’ untuk diturunkan dan dijadikan penghuni dunia ini.
Agar manusia bisa hidup secara harmonis dan tenteram damai sejahtera serta mendapatkan rezeki yang layak, manusia perlu menjaga keserasian alam semesta. Oleh karena itu manusia perlu menghormati dan menghargai penguasa alam atau Sang Pencipta. Demikian pula agar anak cucu yang hidup sekarang dapat memperoleh hidup yang aman tenteram serta kesejahteraan hidup dan untuk intensi yang sama pula, perlu sikap penghormatan dan penghargaan kepada para leluhur.
Alasannya karena leluhur yang telah meninggal itu diyakini telah dekat dan bersatu dengan Alaatala. Leluhur pernah hidup di dunia ini di antara anak cucunya dengan demikian pasti mengenal situasi hidup anak cucunya. Maka atas dasar itu leluhur berperan sebagai pengantara antara Alaatala dan anak cucu. Dari mana para leluhur mengetahui bahwa mereka dihormati dan dihargai oleh anak cucu yang masih hidup?. Mereka mengetahui itu dari darah hewan kurban dalam upacara Gawai raa ini. Agar para leluhur menjalankan peran kepengantaraannya dengan baik, perlu penghormatan dan penghargaan kepada mereka. Penghormatan dan penghargaan dalam kehidupan religius orang Taman diwujudkan dalam upacara Gawai raa.

3. 3. Jenis-jenis Upacara Gawai
Tradisi Gawai dalam kebudayaan asli Daya Taman sangat beragam. Upacara Gawai memiliki masing-masing kegiatannya. Inilah yang menjadikan upacara Gawai itu memiliki jenisnya masing-masing. Secara garis besar jenis-jenis upacara Gawai digolongkan sebagai berikut: Gawai Mulambu, Gawai Mimber Kulambu, Gawai Mamandung, Gawai Manampunnang Ulu, Gawai Mamasi Soo, dan Gawai Raa.

3. 3. 1. Mulambu
Mulambu adalah upacara Gawai yang dilakukan untuk membuat atau merenovasi kuburan nenek moyang. Dalam upacara tradisional ini, gawai mulambu adalah kegiatan yang sangat hakiki, sebab diyakini sebagai bagian dari ritual Gawai yang bertujuan untuk membuat para nenek moyang senang. Maka dalam bagian ini sanak saudara yang mengadakan pesta Gawai memberi sesajian atau makanan untuk para leluhur yang diantar ke kuburan atau dalam bahasa Taman disebut Kulambu.

3. 3. 2. Mimber Kulambu
Mimber kulambu artinya menebas kuburan atau membersihkan kuburan nenek moyang. Menebas atau membersihkan kuburan nenek moyang dilakukan oleh anak cucu atau kaum kerabat dari anggota keluarga yang telah meninggal dunia. Menebas atau membersihkan kuburan juga dilakukan oleh kaum keluarga yang menyelenggarakan Gawai tersebut. Mimber kulambu dilakukan sebagai rangkaian dari tujuan diadakannya Gawai tersebut.

3. 3. 3. Mamandung
Secara harafiah kata ‘mamandung’ berarti menjadikan atau mengerjakan kandang hewan kurban. Mamandung adalah upacara Gawai yang khas dan istimewa dari Gawai yang lain. Dalam upacara Gawai mamandung ini disediakan hewan kurban seperti kerbau atau sapi dalam sebuah kandang kurban yang disebut Pandung. Hewan ini akan dibunuh saat hari jadi dengan cara ditombak, lazimnya dilakukan oleh orang yang ijului atau ibalas.
3. 3. 4. Manampunang Ulu
Manampunang Ulu artinya menanam tengkorak (kepala manusia). Upacara gawai manampunang Ulu ini diadakan sebagai ungkapan rasa duka yang mendalam karena istri atau suami atau ibu atau bapak yang sangat dicinta telah meninggal dunia. Gawai Manampunang Ulu dewasa ini nyaris tidak pernah lagi dilakukan.

3. 3. 5. Mamasi Soo
Mamasi soo artinya peresmian berdirinya Rumah Betang sebagai tempat tinggal orang Daya Taman. Biasanya upacara Gawai Mamasi Soo dilakukan jika setiap kepala keluarga sudah merampungkan biliknya atau Paanik. Sebagai wujud syukur atas rampungnya Soo Langke atau Rumah Panjang, maka diadakanlah pesta adat gawai Mamasi Soo. Tujuannya adalah untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Alaatala juga atas peran dan restu dari leluhur atau roh nenek moyang.

3. 3. 6. Gawai Raa
Gawai raa artinya pesta besar. Inilah upacara terbesar dalam kehidupan religiositas orang Taman. Gawai raa adalah pesta yang diselenggarakan secara istimewa untuk menghormati dan menghargai para leluhur yang telah meninggal dunia. Untuk melaksanakan upacara adat Gawai raa ini, dari pihak keluarga atau anak cucu perlu mempersiapkannya dengan baik. Pesiapan-persiapan tersebut terutama bersifat materiil yakni berupa dana logistik. Hal ini perlu dipersiapkan sebelumnya bersamaan dengan berbagai kebutuhan yang perlu dipersiapkan untuk menjamin terselenggaranya pesta besar ini. Pelaksanaan Gawai raa juga perlu persiapan moril. Pelaksanaannya mesti memperhatikan kaidah-kaidah hukum adat yang berlaku. Dalam Gawai raa ini terdapat pantangan-pantangan atau hal-hal yang tidak boleh dilakukan selama pesta ini diselenggarakan misalnya perkelahian.

3. 4. Prosesi Pelaksanaan Gawai Raa
Adapun acara pelaksanaan Gawai raa secara khusus dapat dibagi dalam tiga rangkaian. Pertama, tahap perencanaan dan persiapan pelaksanaan Gawai raa, meliputi persiapan jauh dan persiapan dekat. Kedua, tahap mendirikan Pandung (Padeng Pandung). Ketiga, memasukkan hewan kurban (Mapis katiyo’an). Setiap rangkaian kegiatan tersebut akan kami diuraikan.

3. 4. 1. Perencanaan dan Persiapan Pelaksanaan Gawai Raa
3. 4. 1. 1. Persiapan Jauh
Kegiatan-kegiatan dalam rangka mempersiapkan pelaksanaan upacara Gawai raa biasanya dilakukan jauh-jauh hari. Kegiatan atau acara itu meliputi Sialaan kada (Mufakat keluarga), Kombong Salangko (Musyawarah seisi Rumah Betang), Kombong sakampungan (Musyawarah sedesa), Mantaat atau Mamole jarat tangan (Mengantar atau Mengembalikan tanda perjanjian), Mala pandung (Mengambil kayu untuk pagar hewan kurban).

3. 4. 1. 1. 1. Sialaan Kada
Mufakat keluarga atau sialaan kada, ialah sebuah musyawarah keluarga yang di dalamnya berisi niat untuk melaksanakan Gawai raa. Biasanya mufakat keluarga ini dilakukan secara intern dan sangat eksklusif serta sudah dilakukan jauh-jauh hari. Bila terjadi mufakat, maka ditentukanlah waktu untuk mengantar atau mengembalikan jarat tangan kepada orang yang ijului atau ibalas. Jarat tangan juga dapat diberikan kepada kepada orang yang dianggap berjasa bagi nusa dan bangsa atau Gereja seperti misalnya Uskup, Bupati, Gubernur. Mereka ini akan menombak hewan kurban dan diberi mahkota penghargaan adat yakni iamasi.

3. 4. 1. 1. 2. Kombong Salangko
Setelah seluruh anggota keluarga sepakat untuk melaksanakan upacara Gawai raa tersebut, maka diadakanlah musyawarah serumah betang atau kombong salangko. Musyawarah ini melibatkan seluruh penghuni Rumah Betang itu. Keluarga yang hendak melaksanakan upacara Gawai tersebut memberitahukan niatnya. Keluarga yang akan melaksanakan upacara Gawai raa meminta petunjuk dan saran mengenai pelaksanaan dan memohon dukungan moril serta tenaga dan pikiran sebagaimana mestinya agar niat ini dapat terselenggara.
3. 4. 1. 1. 3. Kombong Sakampungan
Setelah niat keluarga diutarakan kepada warga serumah betang, maka diadakan musyawarah yang lebih besar, yang disebut Kombong sakampungan. Kombong sakampungan adalah tahap selanjutnya dari keluarga yang hendak melaksanakan upacara Gawai raa untuk mengundang pemuka adat dan pemuka masyarakat se desa. Pada kesempatan ini keluarga yang hendak melaksanakan Gawai tersebut menjelaskan niat dan tujuan pelaksanaanya. Jika niat keluarga tersebut manjuluang katiyo’an, apa hewan kurban yang akan dikurbankan dalam upacara itu. Apakah berupa sapi atau kerbau. Jika keluarga tersebut mambalas atau dengan kata lain mamole’ jarat tangan, dalam kombong sakampungan ini dijelaskan kepada siapa keluarga yang hendak mengadakan pesta Gawai tersebut mambalas dan berupa apa. Apakah berupa kerbau atau sapi dan dalam jumlah berapa. Jika sebelumnya ia mendapat utang dua ekor kerbau maka iapun harus menyediakan dua ekor kerbau.
Pihak yang akan mengadakan upacara Gawai dalam musyawarah se desa ini meminta petunjuk dari para pemuka adat (Toa-toa adat) dan pemuka masyarakat ( Toa-toa soo) mengenai penyelenggaraan Gawai tersebut. Pada saat yang sama, pihak yang akan menyelenggarakan Gawai meminta tenaga dan dukungan moril dari seluruh masyarakat sekampung demi suksesnya pelaksanaan Gawai raa tersebut.

3. 4. 1. 1. 4. Mantaat atau Mamole’ Jarat Tangan
Kalau keluarga yang akan menyelenggarakan upacara Gawai raa tersebut mambalas, maka dia harus mamole’ atau mengembalikan jarat tangan. Tetapi kalau keluarga tersebut manjuluang katiyo’an atau memberikan jamuan atau piutang kepada pihak keluarga tertentu yang nantinya akan menombak hewan kurban ( muno’ katiyo’an), maka jauh sebelumnya sudah harus dijejeki. Maksudnya adalah apakah orang tersebut bersedia atau tidak untuk ijului. Untuk maksud manjuluang kepada siapa akan ditujukan jarat tangan, diperlukan pendekatan yang sangat hati-hati. Pendekatan yang demikian dimaksudkan untuk menghindari sikap yang menyalahi hukum adat yang berlaku.

3. 4. 1. 1. 5. Mala Pandung
Persiapan selanjutnya adalah mengambil kayu pandung atau mala pandung, artinya mengambil kayu untuk kandang hewan kurban. Pengambilan kayu pandung dilakukan secara bergotong royong. Kegiatan mengambil kayu pandung ini biasanya hanya dilakukan oleh pihak laki-laki. Kayu pandung dapat diambil di rimba (ton) atau di hutan (timpungan).

3. 4. 1. 2. Persiapan Dekat
Adapun acara-acara untuk mempersiapkan pelaksanaan upacara Gawai raa sebagai persiapan dekat meliputi dua tahap sebagai berikut: tahap pertama meliputi acara Mantaat Buun (mengantar undangan), Pandannang baras (membagikan beras), Mimber Kulambu (menebas kubur). Sedangkan tahap kedua meliputi acara Padeng Pandung (Mendirikan kandang hewan kurbau), menyombaang (upacara doa), Mapis Ka tiyo’an (memasukkan hewan kurban).
3. 4. 1. 2. 1. Mantaat Buun
Persiapan selanjutnya, setelah semua maksud dan rencana mendapat klarifikasi dari semua pihak, adalah acara mantaat buun. Acara mantaat buun adalah acara mengantar undangan kepada setiap desa orang Daya Taman. Setiap desa diberikan undangan agar berkenan hadir atau tampiir pada saat hari jadi. Acara mantaat buun biasanya dilakukan selama satu hari satu malam dan disambut dengan upacara penyambutan yang meriah. Adapun acaranya ialah untuk menyampaikan maksud dan rencana sekaligus undangan resmi oleh rombongan yang diutus oleh pihak keluarga yang mengadakan Gawai raa.

3. 4. 1. 2. 2. Pandannang Baras
Pandannang baras merupakan sebuah acara yang tak kalah pentingnya sebagai bagian dari persiapan upacara Gawai raa. Pandannang baras adalah acara mengantar atau membagikan beras dari pihak yang akan menyelenggarakan Gawai raa kepada setiap warga Taman di desa yang terdekat. Adapun inti dari acara ini adalah membagikan beras kepada setiap kepala keluarga (KK) yang ada di Rumah Betang desa yang terdekat. Maksud dari acara ini adalah untuk menghargai waktu dan restu yang diberikan warga sedesa selama persiapan dan pelaksanaan Gawai raa.

3. 4. 1. 2. 3. Mimber Kulambu
Kegiatan yang harus diselesaikan sebelum memasuki hari jadi atau hari “H” ialah mimber kulambu. Mimber kulambu artinya menebas (membersihkan, menyiangi) kuburan para leluhur terutama yang berada dalam desa yang bersangkutan. Sedangkan menebas atau membersihkan kuburan para leluhur yang berada di luar desa keluarga yang melaksanakan Gawa raai, dilakukan sehari sebelum acara penutupan Gawai raa (acara iyum babari). Iyum babari ialah acara penutupan atau pembubaran sebagai tanda berakhirnya seluruh rangkaian kegiatan pelaksanaan Gawai raa.

3. 4. 2. Padeng Pandung
Padeng Pandung artinya mendirikan kandang hewan yang akan dibunuh dengan cara ditombak sebagai kurban dalam upacara Gawai raa. Ada dua acara yang dirangkaikan dalam pendirikan pandung yaitu Mamaban tana’ dan Marere’ tana’.

3. 4. 2. 1. Mamaban Tana’
Pandung adalah kayu untuk kandang hewan kurban. Mendirikan pandung atau padeng pandung untuk hewan kurban dilakukan terlebih dahulu dengan memukul-mukul tanah atau mamaban tana’. Acara mamaban tana’ dilakukan oleh beberapa toa adat yang dianggap memiliki dedikasi untuk melakukan ritual tersebut. Mamaban tana’ dilakukan di sekitar lokasi didirikannya pandung tersebut.
Acara mamaban tana’ ini disertai dengan doa-doa yang didaraskan oleh tiga orang perempuan tua untuk memohon kepada penguasa bumi. Doa yang diucapkan saat acara mamaban tana’ dilakukan bertujuan agar penghuni bumi berkenan pindah karena tempat tersebut akan dipakai untuk mendirikan Pandung. Doa itu juga bertujuan agar nenek moyang atau penguasa bumi berkenan merestui upacara Gawai yang akan diselenggarakan. Dengan mengucapkan doa-doa itu diharapkan hari-hari penyelenggaraan upacara gawai terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan dan yang dapat menghambat kegiatan Gawai raa itu sendiri.

3. 4. 2. 2. Marere’ Tana’
Setelah ritual memukul-mukul tanah selesai, ritual selanjutnya adalah marere’ tana’. Marere’ tana’ adalah membuat garis empat persegi panjang panjang di lokasi akan didirikan pandung, yang juga dilakukan oleh beberapa Toa adat. Doa-doa yang didaraskan sama halnya dengan doa dalam ritus sebelumnya. Doa dibawakan oleh seorang Toa adat, dan diikuti oleh Toa-toa adat yang lainnya. Di akhir ritus ini seorang Toa adat secara khusus memanggil roh nenek moyang dengan cara menumpahkan air tuak atau maram yang disebut acara mambolongi.

3. 4. 2. 3. Manyombaang
Manyombaang adalah ritual untuk memohon kepada sang pencipta atau Alaatala, makhluk halus penghuni tanah, penghuni air, dan matahari dan lain sebagainya. Acara ini dilakukan dengan tujuan agar mereka semua merestui pemakaian lokasi tempat pandung didirikan. Acara manyombaang dilakukan oleh pihak perempuan yang biasanya dengan cara menyanyikan permohonan secara bersama-sama. Namun secara khusus ialah agar Sang Pencipta atau Alaatala dan arwah leluhur atau roh nenek moyang serta seluruh makhluk halus yang ada, berkenan merestuai dan memberkati pelaksanaan Gawai raa.
Melalui doa yang dinyanyikan ini, dimohonkan agar pelaksanaan Gawai raa tidak terhambat atau terhalangi oleh hal-hal yang tak diinginkan seperti kematian, malapetaka, hujan, banjir, angin badai atau topan selama diselenggarakannya upacara ini. Secara khusus lagi dimohonkan agar sanak keluarga tidak jatuh sakit, ataupun jangan sampai ada yang meninggal dunia.

3. 4. 2. 4. Padeng Pandung
Setelah acara menyombaang dilakukan, acara selanjutnya adalah mendirikan pandung atau pandeng Pandung. Pandung adalah kandang khusus hewan kurban yang akan dibantai dengan cara ditombak pada hari “H”. Setelah didirikan maka Pandung tersebut dirapikan atau disebut dengan mapas Pandung agar apik dan kuat.

3. 4. 2. 5. Padeng Toras
Toras adalah sebutan orang Taman untuk patung yang dibuat dan dipahat dari kayu. Patung ini dibuat menyerupai manusia untuk menghadirkan kembali sosok kurban yang sebenarnya. Dalam upacara Gawai terdahulu yang dikurbankan adalah manusia. Manusia yang dijadikan kurban itu ialah hamba atau budak belian dari kelurga yang mengadakan upacara adat Gawai raa. Namun sejak perjanjian Tumbang Anoi yang antara lain berisi kesepakatan penghapusan tradisi mengayau dari sendirinya tidak diperkenankan mengurbankan manusia sebagai kurban.
Mulai pada saat pendeklarasian kesepakatan bersama untuk berdamai di antara orang Daya dengan menghentikan saling mengayau (sikayo), saat itu pula lahir kesepakatan bersama di antara para petinggi suku Taman bahwa manusia sebagai kurban dihapus. Atas dasar kesepakatan petinggi adat suku Daya Taman saat itu kurban diganti dengan hewan dengan satu syarat bahwa dalam setiap upacara Gawai raa mesti didirikan patung atau yang disebut Toras. Toras berfungsi untuk merepresentasikan kurban asli dalam tradisi upacara Gawai raa.
Dalam budaya Daya Benuag patung juga dikenal dalam upacara ritual adat. Upacara itu disebut Tiwah. Tiwah berfungsi untuk merepresentasikan leluhur yang dikenal dengan nama Hampatong. Hampatong adalah nama yang diberikan kepada patung-patung kayu yang dipahat yang menggambarkan seorang manusia. Dalam versi suku Daya Benuag, Patung kayu tersebut diberi nama sesuai dengan tujuan dan fungsinya dalam kehidupan religi orang Daya. Dalam tradisi suku Daya Taman patung tersebut bukan sebagai representasi para leluhur tetapi reperesentasi manusia sebagai kurban aslinya yang sekarang diganti dengan hewan kurban.

3. 4. 2. 6. Mapis Katio’an
Setelah pendirian Pandung dan pendirian patung selesai, maka diselengarakan acara mapis katiyo’an. Mapis katiyo’an artinya memasukkan hewan kurban. Acara memasukkan hewan kurban sesuai dengan tempat yang dikehendaki dan ditentukan sebelumnya. Setelah pendirian kandang hewan (pandung) dan pendirian patung (Toras) selesai dilakukan, maka hewan (sapi atau kerbau) yang akan dijadikan kurban dapat dimasukkan. Acara memasukkan hewan kurban ke dalam kandang (mapis katiyo’an) diiringi dengan membunyikan Kangkoang yang disebut taba’ jaum.

3. 4. 2.7. Bumbulan
Acara bumbulan ini dilakukan selama tiga hari tiga malam berturut-turut menjelang hari pelaksanaan Gawai raa. Beberapa orang ibu atau perempuan tua yang dianggap memiliki dedikasi untuk mumbulan didatangkan untuk melaksanakan acara ini. Inilah salah satu syarat mutlak yang harus dijalankan sebelum hari jadi Gawai raa. Tujuan diadakannya acara ini adalah untuk mengisahkan kembali sejarah penciptaan alam semesta dan manusia.

3. 5. Hari Palaksanaan Gawai Raa
3. 5. 1. Aso Dari (Hari ”H”)
Hari jadi atau hari ”H” adalah hari yang dinantikan oleh setiap warga Taman. Tamu datang dari berbagai kampung orang Taman. Selain itu juga tamu kehormatan yang mendapat undangan secara khusus, misalnya rombongan Uskup, Bupati, Muspida, Gubernur atau kedutaan dan konsulat hadir mengikuti prosesi Gawai raa. Tamu atau undangan (tuu tampir gawai) datang dengan menggunakan perahu hias (Paru tambe).
Para tamu atau undangan yang hadir menggunakan pakaian adat khas orang Taman. Selama perjalanan perahu hias dimeriahkan dengan tabuhan khas (taba’ gulembang) dan tarian (mandaria’i Paru tambe, Bedil atau yang biasa disebut Bading dibunyikan (timbak Bading) sebagai tanda kedatangan Paru tambe.



Gambar 4. 1. Perahu Hias Gambar 4. 2. Tamu Perempuan

3. 5. 1. 1. Sisialo atau Siarung
3. 5. 1. 1. 1. Manyialo Paru Tambe
Setibanya di tepian rombongan tamu yang datang dengan Paru tambe disambut, dieluk-elukan, dengan acara timbak bading, dan menaburkan beras kuning (mamborang baras tantamuan). Penaburan beras kuning dilakukan bertujuan memohon keselamatan dan berkat untuk para tamu dan tuan rumah yang melaksanakan Gawai raa. Kedatangan Paru tambe juga disambut dengan tarian dan pekikan. Antara penari yang berada di atas perahu hias dengan penari yang berada di tepian, berpekik bersahut-sahutan. Tamu yang datang dengan Paru tambe disapa dengan ramah. Pakaian dibawakan oleh pihak panitia (among tamu) yang telah ditunjuk. Diupayakan agar acara penerimamaa atau penyambutan tamu ini dilaksanakan dengan baik supaya menimbulkan kesan baik bagi para tamu.

3. 5. 1. 1. 2. Maliliti Pandung
Orang-orang tua dari rombongan undangan dipersilahkan mengitari kandang hewan kurban (maliliti Pandung). Acara maliliti Pandung dilakukan dengan cara berjalan mengelilingi kandang hewan kurban (Pandung) dengan membawa Mandau untuk memantap setiap tiang penyangga Pandung sambil menari dan berpekik. Maliliti Pandung hanya dilakukan oleh orang tua sedangkan anak-anak dan remaja yang tergabung dalam rombongan tidak diperkenankan. Di setiap sudut Pandung ada orang yang telah dipersiapkan secara khusus untuk memberi minuman khas atau dengan istilah palanggar tu maliliti Pandung.
3. 5. 1. 1. 3. Manyapa Umpang
Setelah melakukan acara maliliti Pandung, rombongan tamu atau undangan naik menuju rumah Betang. Mereka berkumpul menunggu giliran pemotong kayu palang (manyapa’ umpang). Manyapa’ Umpang adalah acara pemotongan kayu yang dipalangkan di jalan menuju ke rumah Betang tempat dilangsungkan acara Gawai raa tersebut.
Pemotongan kayu Umpang dilakukan oleh kepala rombongan dengan menggunakan ‘Mandau. Sebelum melakukan pemotongan, orang tersebut disuguhi secuil minuman keras yang dikenal dengan istilah palancar (untuk memperlancar). Tujuannya ialah agar pemotongan kayu tersebut dilakukan dengan lancar. Pemotongan Umpang menandai bahwa para tamu atau rombongan diterima secara resmi oleh tuan rumah. Begitu acara pemotongan Umpang selasai, para tamu atau rombongan dipersilahkan langsung masuk dan duduk di bilik (Tindo’an) untuk menikmati hidangan penganan atau kue khas pesta orang Taman (Tiyangan kaan) dengan berbagai jenis dan citarasa.

3. 5. 1. 2. Acara Tambar dan Baris
3. 5. 1. 2. 1. Tambar
Tambar adalah salah satu acara yang penting untuk mengawali acara-acara selanjutnya dalam upacara Gawai raa. Acara tambar dilakukan pada malam hari dan dipimpin oleh penatua adat (Toa adat). Ada empat tujuan yang hendak disampaikan kepada para tamu dalam acara tambar ini. Pertama, untuk mengucapkan selamat datang kepada para tamu. Kedua, untuk mengucapkan terima kasih dan ucapan permohonan maaf kepada para tamu bila ada kekhilapan tuan rumah dalam penyambutan. Ketiga, Penjelasan kepada para tamu mengenai siapa yang mengadakan Gawai dan apa maksud dan tujuan dari keluarga yang mengadakan Gawai itu. Keempat, Ajakan kepada para tamu untuk tetap mentaati adat istiadat dan mengikuti upacara Gawai raa dengan tertib.
Sebagai akhir dari acara Tambar ini pemimpin menghamburkan beras kuning memohon kepada Alaatala dan arwah para leluhur. Tujuannya ialah memohon agar keluarga yang mengadakan gawai, para tamu, dan seisi rumah Betang memperoleh berkat dan kesehatan selama berlangsungnya upacara Gawai raa.

3. 5. 1. 2. 2. Baris
Baris adalah acara menghidangkan atau memberi minuman kepada para tamu yang dipandu oleh beberapa orang dewasa. Acara Baris ini dilakukan sebagai ungkapan kehormatan kepada tamu. Secara berturut-turut minuman yang diberikan adalah minuman keras dengan nama Maram, Tuak, dan Arak.

3. 5. 1. 3. Acara Pasiap
Pasiap adalah acara menghidangkan atau memberikan penganan atau kue khas orang Taman kepada para tamu dengan cara disuapi. Pasiap dilakukan oleh para ibu dan para gadis dengan berpakaian adat. Mereka berjalan secara teratur berkeliling menyuguhi dan menyuapi para tamu. Acara pasiap ini diiringi dengan tabuh-tabuhan.

3. 5. 1. 4. Acara Taba’ dan Daria’ So’soak
Taba’daria’ so’soak artinya adalah acara tarian gembira dengan diiringi tabuhan tradisonal. Setelah acara pasiap dilakukan, dilanjutkan dengan acara taba’ dan daria’ so’soak. Sementara seluruh tamu menikmati tari-tarian itu, panitia bersiap-siap mengkoordinir acara penombakan hewan kurban

3. 5. 1. 5. Munoo’ Katiyo’an
Acara membunuh hewan kurban atau muno’ katiyo’an merupakan acara penting kerena di sinilah inti dari upacara Gawai raa. Hewan yang ditombak darahnya dibiarkan tumpah ke tanah (dara’ tambor). Darah hewan inilah yang diyakini menyampaikan kabar kepada para leluhur bahwa anak cucu mereka telah melakukan upacara penghormatan dan penghargaan kepada mereka.

3. 5. 1. 6. Manyapa’ Pandung
Manyapa Pandung adalah acara memotong Kayu Pandung. Pemotongan Kayu Pandung ini dilakukan oleh orang yang diberi kehormatan. Biasanya tugas ini dilakukan oleh kepala rombongan dari yang ijului atau ibalas serta tua-tua adat undangan lainnya yang diberi kepercayaan. Acara pemotongan Kayu Pandung ini diharapkan berjalan lancar sambil mengucapkan doa-doa atau niat-niat pribadi yang ditujukan kepada leluhur berisi harapan akan kehidupan mendatang. Dari sinilah leluhur mengetahui harapan dan niat yang masih hidup di dunia dan diharapkan niat ini disampaikan oleh leluhur kepada Alaatala.

3. 5. 1. 7. Upacara Mamasi
Mamasi artinya memberi mahkota berwarna kuning keemasan kepada orang yang dihormati. Mamasi adalah acara penghormatan tertinggi dari seseorang kepada orang yang ijului atau ibalas dalam Upacara Gawai raa tersebut. Namun penghormatan tertinggi itu juga dapat diberikan kepada orang-orang yang dianggap berjasa, ksatria, seorang tokoh yang arif dan bijaksana, hartawan, dermawan.
Upacara mamasi dilakukan pada malam hari. Prosesi mamasi ini dipimpin oleh penatua adat. Beberapa perempuan atau gadis yang bersedia membawakan perangkat pemahkotaan duduk berhadapan muka dengan orang-orang yang akan diberi mahkota penghargaan. Caranya ialah dengan mentahtakan anyaman daun enau muda yang dihiasi dengan bulu burung Engang atau sebagai mahkota kebesaran yang disebut dengan indulu amas-amas.

3. 5. 2. Iyum Babari
Iyum babari ialah istilah untuk acara minum yang menandai berakhirnya pelaksanaan upacara Gawai raa. Iyum babari juga dilakukan untuk melepas pantangan-pantangan yang tidak boleh dilakukan selama prosesi Gawai raa. Setelah acara ini dilakukan para tamu undangan dipersilahkan dengan hormat kembali ke tempat masing-masing dengan membawa oleh-oleh khas pesta Gawai raa. Oleh-oleh itu berupa beras, penganan, dan daging hewan kurban, diharapkan juga diicipi oleh mereka yang tidak bisa hadir dalam upacara Gawai raa.

3. 6. Gawai Raa; Identitas Kultural dan Ritual Keselamatan Orang Daya Taman
3. 6. 1. Identitas Kultural
Unsur religius merupakan unsur yang sangat penting dalam suatu budaya tertentu. Sebab, unsur religius ikut menentukan identitas suatu masyarakat tertentu. Gawai raa sebagai upacara sentral dalam kehidupan religiositas Daya Taman diapresiasi menjadi salah satu identitas kebudayaan Daya Taman. Identitas fisik dari kebudayaan Daya Taman yang masih tersisa adalah Rumah Betang.
Selain identitas fisik, terdapat pula identitas rohani yaitu upacara kultis yang mengungkapkan kepercayaan asli yang dilaksanakan melalui upacara adat Gawai raa. Bersamaan dengan pelestarian Rumah Betang, upacara adat Gawai raa orang Taman sampai sekarang tetap dipelihara dan dilestarikan. Upacara Gawai raa ditonjolkan karena menyisakan identitas kultur asli sebagai ungkapan religiositas Daya Taman.
3. 6. 1. 1. Identitas Fisik
Identitas kultur yang diwariskan oleh nenek moyang secara turun temurun tidak semua dapat dipelihara dan dilestarikan. Suku Daya Taman memiliki kekayaan identitas fisik seperti Rumah Betang. Rumah Betang atau Rumah Panjang (So Langke), bagi orang Taman sangat penting untuk mempertahankan identitasnya sebagai orang Daya. Selain Rumah Betang, ada pula identitas fisik lain yang eksotik dan unik yaitu busana adat. Dari berbagai ragam busana tradisional yang dimiliki masyarakat Dayak Taman, baju buri’ king buri’ dan baju manik king manik, paling populer sehingga hampir setiap keluarga Daya Taman memilikinya. Terutama baju buri’ king buri’, yang kerap digunakan pada peristiwa-peristiwa penting seperti upacara adat Gawai raa dan pesta lainnya seperti pesta perkawinan.
Identitas fisik lain yang berada dalam arus kepunahan adalah tradisi daun Telinga panjang. Ada pula tradisi menaruh jenazah di atas rumah (Kulambu), masih dilakukan terutama Taman di desa Ariyung Mandalam, namun di beberapa desa orang Taman lainnya perlahan jenazah-jenazah itu mulai dikuburkan. Sedangkan ornamen-ornamen berupa ukiran-ukiran masih digeluti oleh generasi muda, namun ukiran-ukiran yang dibuat tersebut mengalami pergeseran makna. Banyak generasi muda yang pandai mengukir, tetapi tidak mengerti makna religi yang tersirat dalam ukiran tersebut. Ukiran itu berada pada nilai estetik, bukan lagi pada nilai religius.

3. 6. 1. 2. Identitas Rohani
Identitas kultur tradisional sebagai ungkapan religiositas yang diwariskan oleh nenek moyang, tidak semua dipelihara dan dilestarikan. Sebaliknya, dilupakan atau dihapus karena generasi muda Daya Taman mulai meninggalkan paham tradisional dan tidak lagi fanatik dengan adat istiadat. Uniknya bahwa di tengah-tengah arus transformasi budaya Daya Taman itu, masih ada beberapa upacara yang bersifat rohani yang mengungkapkan keyakinan asli. Antara lain upacara memanggil leluhur, (Pamindara), memanggil roh padi (Kalaman), mohon keselamatan (Gawai).

3. 6. 2. Ritual Keselamatan
Upacara atau ritual adat Gawai raa merupakan upacara yang mengintensikan keselamatan. Upacara ini diselenggarakan sebagai wujud partisisipasi manusia dalam tata keselamatan. Partisipasi manusia yang berupa ritual adat Gawai raa ini merupakan cara penyesuaian perbuatan atau tindakan dengan tata kosmis yang mengatasi segala realitas dunia. Keselamatan yang diinginkan lewat upacara upacara Gawai raa di dalamnya memuat dimensi vertikal dan horizontal.
Secara vertikal ialah relasi antara manusia dengan Allah sebagai Sang Pencipta. Artinya bahwa Sang penciptalah yang bekuasa memberi keselamatan atas kehidupan manusia di dunia ini. Secara horizontal ialah relasi dengan sesama dan alam. Dalam arti bahwa keselamatan hidup manusia dapat dirasakan dan dialami jika terjadi keharmonisan antara manusia dengan alam. Paham yang terkandung di dalam ritual ini ialah bermaksud untuk rekonsiliasi kosmik. Kedua dimensi tersebut menjadi satu intensi yang dibawa dalam upacara adat Gawai raa. Ungkapan religiositas ini mengandung pengertian bahwa segala ujud permohonan ditujukan kepada Allah lewat leluhur sebagai pengantara, untuk keselamatan anak cucu. Manusia yang masih hidup di dunia, menginginkan keselamatan dalam hidupnya. Keselamatan hidup yang dimaksud ialah kehidupan yang bebas dari segala marabahaya serta kejahatan kosmis yang membuat manusia hidup dalam penderitaan.
Upacara Gawai raa diadakan agar Alaatala sebagai Sang Pencipta dunia mendamaikan semua mahkluk ciptaan supaya hidup harmonis dan tidak saling mengganggu kehidupan. Maka upacara Gawai raa ini suatu upacara kultis untuk memohon kepada Alaatala sebagai pencipta agar tata kosmos hidup secara harmonis. Manusia, secara khusus keluarga, memohonkan kepada Alaatala lewat leluhur agar Alaatala menghindarkan dari mereka bahaya dan malapetaka sekaligus memohonkan keselamatan, kesejahteraan, berkat, dan ketentraman hidup.
3. 6. 2. 1. Upacara Adat Gawai Raa Sebagai Upacara Keselamatan
Adat adalah wujud gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai budaya, norma-norma dan aturan; yang satu berkaitan dengan yang lain dan membentuk suatu sistem. Bagi suku Daya Taman, adat mempunyai arti lebih luas dari pada sekadar pengertian tentang peraturan, kebiasaan, cara dan tata susila. Menurut orang Taman, adat mengatur segala bentuk hubungan antara manusia dan sesamanya, manusia dengan makhluk lain, dan manusia dengan penciptanya. Adat berfungsi mengatur hidup dan relasi antara manusia dengan Sang Pencipta, sesama dan alam ciptaan. Jadi, salah satu intensi adat adalah memelihara keharmonisan tata kosmos. Upacara adat menuntun seluruh hidup dan pemikiran dan semua relasi manusia dengan kosmos. Upacara adat dianggap sebagai sesuatu yang sakral, sebab berhubungan dengan Sang Pencipta sendiri sebagai pemberi keselamatan. Upacara adat Gawai raa sebagai awal dari peristiwa keselamatan, mengajak manusia untuk menaruh harapan hanya kepada wujud tertinggi (Alaatala). Meskipun upacara adat Gawai ini bermaksud pemuliaan (glorifikasi) untuk para arwah leluhur, seluruh rangkaian upacara Gawai raa memiliki intensi atau gagasan teologis yang bermuara pada Allah. Upacara ini mengajak segenap manusia beriman kepada Sang Pencipta.
3. 6. 2. 2. Relasi antara Allah, Leluhur, dan Manusia dalam Gawai Raa.
Relasi antara Allah, leluhur, dan manusia (keluarganya) dalam upacara Gawai raa, menunjukkan relasi yang bersifat hirarkis-subordinatif. Allah (Alaatala) diimani sebagai pribadi yang superior, yang menguasai alam semesta dan menyelamatkan manusia dari malapetaka, yang dapat memberikan kesejahteraan dan ketentraman hidup. Leluhur diyakini sebagai pribadi yang dapat menjadi fasilitator atau pribadi yang menyampaikan niat keluarga kepada Alaatala. Leluhur sangat dihormati karena dianggap sebagai “orang suci”, yang memohonkan keselamatan, kesejahteraan, berkat, ketentraman kepada Alaatala bagi manusia yang masih hidup di dunia ini. Adapun relasi konstan antara Alaatala, leluhur, dan manusia (keluarga) dapat digambarkan sebagai berikut:

Gbr. 5. Relasi Konstan Antara Alaatala, Leluhur, Manusia dalam Upacara Gawai raa

3. 7. Kesimpulan
Gawai raa adalah upacara kultis penting sebagai identitas religiositas orang Taman. Upacara Gawai raa merupakan upacara keselamatan. Keragaman acara dalam Gawai raa menunjukkan nilai-nilai penting yakni keselamatan. Dalam ritual adat Gawai raa terdapat tiga pribadi, yaitu Alaatala, leluhur, manusia. Mereka berelasi secara konstan untuk mewujudkan keselamatan. Dalam pembahasan selanjutnya ditampilkan upaya Gereja mencari titik temu, mencermati, mengkontekstualisasikan ide-ide teologi yang muncul ke permukaan dari upacara Gawai raa ini, dengan mendialogkannya dengan iman Gereja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar